Minggu, 04 Maret 2012

Menggoda Anak Belasan Tahun #1

Sebagai janda usia 32 tahun, aku seorang pembohong bila aku tak membutuhkan sex. Aku perempuan normal dan aku masih suka sex. Namun setelah kelahiran anakku yang kedua, (kedua anakku adalah perempuan) aku dan suamiku bercerai baik-baik. Suamiku membutuhkan anaklaki-laki, sementara peranakanku sudah diangkat, untuk menyelamatkan jiwaku dan anak keduaku. Aku bersyukur, suamiku, ketika itu mau mengerti keadaan. Akhirnya aku merelakan untuk dicerai daripada aku dimadu.
Aku mendapatkan santunan besar dari suamiku. Sebuah rumah yang kami bangun bersama, kemudian deposito dan sebuah mobil serta sebuah toko. Biaya sekolah anak-anakku, ditanggung oleh suamiku dan merekabebas bisa bertemu kapan saja suamiku dan anakku mau. Tapi sejak perceraianku secara resmi, aku tak mau digauli oleh suamiku lagi. Aku jaga gengsi, bahwa aku bukan perempuan sembarangan.
Seorang tetanggaku baru saja pindah kekompleks rumah kami dan kami menjadi akrab, karena dia memiliki anaktyunggal dan suaminya jugaseorang yang alim. Mereka super sibuk. Sering keluar kota bersama untuk urusan bisnis dan mereka selalu menitipkan putra tunggalnya Hendra padaku sampai seminggu lamanya.
Hendra suka melirik tubuhku, ketika dia bermain dengan putriku yang masih kelas satu SDdan yang kecilmasih TK. Aku selalu tersenyum, kalau dia mulai melirik belahan dadaku. Saat itu terbersit dihatiku untuk mendapatkan sex dari Henra yang masih berusia 15 tahun dan sudah duduk di kelas 1 SMA. Terkadang aku malu pada diriku sendiri. Haruskah aku bersetubuh dengan anak ingusan itu?
Aku sengaja memakai memakai Kimono sore hari sehabis mandi. Kimono pendek. Dengan rambutku tergerai basah, aku duduk di sofa teras belakang rumah. Aku sengaja membaca majalahwanita di hadapan Hendra yang sibuk bermain sendiri dengan mengokotak-katik radio eksperimennya. Tentu sajabelahan Kimono ku kusengaja tersingkap agar paha putih mulusku terlihat. Terkadang aku sengaja celana dalamku antara terlihat dengan tidak. Seakan-akan dengan gerakan repleks aku menatap wajahnya, seakan tertangkap basah, ketikamemelototi pangkalpahaku. Kemudian aku tersenyum padanya. Hendra tertunduk malu.
"Laaahhh... kenapa musti malu, Hen. Kan kamu sudah dewasa dan gagah lagi," rayuku dengan suara mendayu. Hendra diam dan wajahnya bersemu merah.
"Udah sini duduk dekat tante,"kataku sembari menarik tangannya agar duduk di dekatku. Dengan malu-malu Hendra duduk di sampingku, sementara dua putriku bermain dengan asyiknya di gazebo yang dikelilingi pepohonan bunga warna-warni. Biasa jika dua anak aperempuan bermain, yang mereka mainkan adalah masak-masakan.
"Kenapa musti malu, sayang. Kan kamu laki-laki dan seorang yang gagah,"kataku memuji-muji dirinya. Hendra memang kelihatan gagah. Hendra diam saja. Kulihat di balikcelananya ada benjolan. Artinya penisnya sedang mekar dan mengeras. Cepat aku meraba penis. Hendra sepertio menepis tanganku.
"Malu tante,"katanya.
"Kok malu, kan hanya kita berdua gakada yang ngeliat. Adik-adikmu mana mengerti itu," rayuku lagi.
"Kamu sudah punya pacar belum?" tanyaku. Hendra mengaku sudah. Entahlah, benar atau tidak dia sendiri yang tau.
"Udah percahciuman?" pancingku.
"Udah tante," jawabnya. Aku juga tak mau tau apakah dia bohong atau tidak.
"Bisa ni, tante bukti in, kalau kamu sudah pernah berciuman," bisikku, memancing.
"Ih... buktiin bagaimana tante? Apa aku harus bawa pacarku dan berciuman di depan tante," katanya seperti orang lugu.
"Tidak harus demikian dong. Aku punya cara, untukj mengetahui, apakah kamu bohong atau tidak," kataku merayu lagi.
"Gimana cara tante membuktikannya?"
"Ayo ikut tante," kataku dan bangkit dari tempat duduk. Aku memasuk rumah dan Hendra mengikuti aku. Begitu dia masuk, aku menutup pintu. Langsung dia aku peluk.
"Ayo buktikan, kalau kamu sudah percah berciuman," kataku sembari menarik tengkuknya dan mengecup bibirnya. Hendra terkejut, namun akhirnya dia memberi respons pada kecupan bibirku. Kami berciuman. Bibir kami sudah menyatu. Aku percaya Hendra mungkin saja sudah pernah berciuman atau mendapat keterangan dari teman-temannya. Kulepas ikatan komonoku, hingga Kimonoku terbuka dan aku memang senagaja tidak memakai Bra. Kuarahkan tangannya untuk mengelus tetekku. Aku terus mempermainkan lidahku dalam arongga mulutnya. Kami berciuman dan saling memeluk dan meraba. Sampai akhirnya Hendra melenguk dan memelukku kuat, kemudian melemas. Aku sadar, kalau Hendra sudah orgasme. Cepat sekali. Mungkin karena dia masih hijau, masih pemula. Aku tersenyum dan melepaskan pelukanku, kemudian memperbaiki ikatan Kimono-ku. Saat itu putri bunghsuku mengetuk pintu ingin masuk kerumah. Aku membuka pintu dan kembali duduk di kursi terasa.
Dua hari Hendra tak datanag ke rumah. Setiap kali kami bertatapan mata, dia selalu tertunduk malu. Biasalah, pemula, demikian batrhinku. Tapi bagiku, itu adalah langkah awal yang baik untuk selanjutnya sampai kepada apa yang aku inginkan.
Hari ke tiga, kembali mama dan papanya menitipkan Hendra padaku. Makannya dan semuanya. Bahkan Hendra boleh mengunci rumahnya dan tidur bersama kami di rumahku. Aku tetap santun dan siap menjadi ibu asuh Hendra.
Hendra datang ke rumahku dan kami kembali duduk sore hari di teras belakang rumah. Aku mengajak dia ngobrol entah kemana-mana arah obrolan kami. Akhirnya aku memuji-mujinya, sebagai seorang lelaki tulen dan perkasa serta hebat. Aku menagatakan kehebatannya berciuman.
"Kenapa kamu tak mau mengisap pentil tetek tante, Hen?"
"Apa boleh tante," Hendra bertanya dengan matanya yang berbinar. Horeee.... pancingku sudah mengana, batinku pula.
"Kenapa tidak sayang. Jika tidak ada orang lain, semuanya adalah milikmu. Kamua bebas memperlakukan aku bagaimana saja, asal kamu tidakcerita kepada siapapun juga dan tidak boleh dilihat oleh orang lain," kataku meyakinkannya. Nampak dia senang.
"Apa kamu mau sekarang?" tanyaku. Kedua anakku kebetulan baru saja masuk kamar untuk tidur diang dan aku sudah menyemprot tubuhku dengan farvum kesayanganku. Kulihat Hendra tersenyum.
Kembali kutarik tangannya ke dalam rumah dan aku langsung menguncinya. Aku tau, semua keadaan rumah sudah terkunci, termasuk gerbang. Sudah aman. Kulepas kimono-ku dan aku sudah telanjang, tingga celana dalam min yang melekat di tubuhku.
"Sekarang inilah milikmu. Perbuatlah, seperti apa yang kamu mau," kataku merayu dan mendekatinya serta memeluknya. Kami berciuman kembali. Kuarahkan tangannya meremas tetekku. Setelah puas berciuman, aku arahkan pentil tetekku untuk diisapnya. Kulihat Hendra demikian rakusnya mengisap tetekku dan sebelah tangannya kuarahkan mengelus tetekku yag sebelah lagi. Saat itu, aku memasukkan tanganku ke dalam celananya dan mengelus penisnya. Aku tau Hendra belum berpengalaman dalam hal ini. Aku harus sabar mendidiknya, hingga apa yang kuinginkan bisa terpenuhi.
Aku berhasil melepaskan celananya ke lantai. Tanganku bebas mengelus penisnya.
"huuuhhhh... luar biasa hebatnya kontolmu Hen,"kataku memuji miliknya. Laki-laki kalau dipuji-puji kehebatan miliknya, pasti bangga. Kepalanya pasti langsung membesar. Apalagi laki-laki yang masih remaja.
Hendra diam saja, malah mengganti mulutnya ke pentila tetekku yang satu lagi. Aku pun merintih-rintih kenikmatan secara profesional.
"Kamu hebat sekelai sayang. Kamu hebat," teruskan sayang," bisikku
Hendra terus merabai tubuhku dan tangannya sudah berada di kemaluanku. Bulu-bulu kemaluanku yang kutata rapi bulu-bulunya, membuat rabaan Hendra aku hampir melayang.
"Masukin dong kontolmu ke memek tante, sayang," pintaku seperti merintih dan menjerit kecil secara profesional. Desah nafasku pun kubuat seperti aku sangat membutuhkannya.
"Kontolmu hebat, Hen. Pasti aku akan menjadi sangat puas. Akulah sayang, aku adalah milikmu," kataku menghiba-hiba sedramatis mungkin.
Kutarik dia menindih tubuhku di atas lantai. Kukangkangkan kedua kakiku.
"Masukin sayang..." kataku. Hendra mulai mengarajhkan kontolnya memasuki lubang vaginaku. Berkali-kali meleset. Ingin aku menuntun penisnya memasuki lubang vaginaku. Tapi aku membiarkannya. Sampai akhirnya Hendra duduk dan memegang sendiri penisnya dan mengarahkannya ke dalam lubangku dan menekannya. Tentu saja penisnya cepat menghilang di dalam kveginaku yag sudah basah.
Setelah masuk, aku pun merintih seakan demikian nikmatnya dan demikian gagahnya Hendra.
"Huh... kontolmu hebat sekali sayang. Ayo, pompa yang kuat. Habisi aku. Habisi aku, hajar sepuasmu," rintihku sepeertai aku tak pernah melakukan hal yang seperti itu. Aku merasakan Hendra mulai semangat menghajar diriku. Mulutku terus nyerocos memuji kehebatannya dan seakan aku demikian merasakan keupasan yang tiada taranya. Hendra mencari bibirku dan melumatnya dengan buas dan ganas. Hatiku bersorak, kalau jeratku sudah mengenai korbanku dan tak lama lagi Hendra pasti ketagih dan akan merengek-rengek meminta kepuasan sex dariku.
"Oh... Hen...kekasihku, cintaku... kontolmu hebat sekali sayang. Terus lagi sayang, bagaimana keinginanmu untuk memuaskan dirkku dan dirimu, silahkan. Silahkan sayang," rengekku. Hendra semakin menggila seperti apa yang aku inginkan. Matanya tertutup menikmati sex yang kami lakukan. Lagi-lagi hatiku bersorak, kalau dia sedang menikmatninya. Sebentar lagi dia akan menghiba meminta kenikmatan dariku dan aku mulai memimpin persetubuhan, tanpa setahunya. Aku akan mengajarinya menjilati vaginaku, menjilati anusku dan mempermainkan diriku, seakan itu adalah kehebatannya, padahal akulah sutradaranya.

0 komentar:

Poskan Komentar