Minggu, 04 Maret 2012

Menggoda Anak Belasan Tahun #3

Williem sudah semakin pintar dan aku sudah bersetubuh sembilan kali dengannya. Aku sudah memberinya HP Nexian Rp. 400.000,- Makan minum, beli kaos dan hadiah kecil lainnya.
Kali ini aku mau bercerita dengan pasanganku yang baru. Rumahku harus direnovasi dan di cat, karena udah dekat puasa dan setelahnya akan lebaran. Aku memanggil seorang tukang. Nyatanya dia ditemani oleh anaknya yang outus sekolah. Mereka mulai memebetuli genting dan saluran air. Aku tau, anaknya yang bernama Joko mulai melirih ke pahaku saat aku menjemur pakaian di halaman belakang rumah yang didindingi dengan betul setingi tiga meter.
Saat aku lintas di sisinya, tinggi kami sama, walau usia baru 13 tahun. Ayahnya ada di atas genting dan Joko melayani permintaan ayahnya dari bawah seperti melempar genting ke atas dan pekerjaan kecil lainnya.
Aku pura-pura tak tahu saja, matanya jejelatan. Kubiarkan saja. Tubuhnya kelihatan sudah mulai berotot, karena mungkin dipaksa kerja. Kulitnya hitam dan rambutnya dipangkas cepak.
Aku kembali ke luar membawa ember cucian, karena pembantu tidak masuk dengan alasan sakit. Sengaja kulonggarkan kimonoku dan kuikat agak terbuka agar betisdan pahaku yang putih mulus samar terlihat. Aku tahu, dia sudah punya libido dan rasa ingin tahu anak seperti itu, pasti tinggi.
Pukul 12.00 mereka istirahat dan ayahnya mengajak Jok pulang untuk makan siang karena rumah mereka hanya 200 meter dari rumahku. Saat itu aku mintya tolong agar Joko membeli sesuatu dan akan menyusul ayahnya. Ayahnya tampak setuju. Maklumlah mengambil hati agar aku tetap memakainya dalam perbaikan-perbaikan kecil di rumahku.
Saat ayahnya pulang, aku menyuruh Joko membeli minyak tanah ke warung. Dengan cepat Joko membelinya, padahal sebenarnya aku tidak membutuhkannya, kecuali mati lampu untuk masak lampu templok.
Saat dia pulang, aku sengajaduduk di kursi belakang dengan kaki kuangkat sebelah ke atas kursi agar celana dalamku kelihatan dan pahaku keihatan dengan telak. Kulihat Joko naik turun jakunnya.
Aku biarkan saja.
Tak lama Joko mendekatiku. Nampaknya matanya sangat tajam dan kulihat dia sudah mulai gelap mata. Aku pura-pura tak tahu saja. Aku yang kuimpikan menjadi kenyataan. Joko langsung memelukku dan meremas tetekku. Aku pura-pura terkejut.
"Jangan Ko, nanti ketahua ayahmu," pintaku seperti tak setuju.
Nampaknya dia tak perduli. Anak usia 13 tahun, begitu beraninya, batinku. Saat aku dipeluknya sebelah t anganku bekerja secata lembut, seakan menolak perbuatannya, tapi sebenarnya aku melepas tali komonoku. Komonoku pun terlepas dan terkuaklah tubuhku, tanpa bra, kecuali celana dalam saja. Saat Joko memelukku kupermainkqn bahuku, agar Komonoku terlepas dan blasss... aku tinggal memakai celana dalam saja.
Pura-pura aku menolaknya, padahal aku ingin tahu bagaimana penisnya.
"Duh... Joko, ntar ketahuan bapakmu gimana ni? Malukan?" kataku seakan tersendat-sendat di kerongkongan. Bukannya Joko diam, malah melepas celananya sampai penisnya kelihatan aberdiri. Kali ini aku memangterkejut, melihat penisnya yang lebih besar dari usianya. Dalam benakku, setidaknya Joko sudah terbiasa onani. Kulihaturat-urat pada penisnya biru kemerahan.
"Ibu mau diapain, Jo? Malu Ko nanti ketahuan," kataku seakan menolak tapi aku membiarkan saja apa yang dialakukan pada diriku. Celanaku dia turunkan, hingga aku sudah bugil, sementara Joko hanya celananya saja yang lepas.
Aku direnggutnya hingga aku tertidur di lantai. Cepat Joko menindihku dari atas. Perlahan kukangkangkan kedua pahaku.
"Cepat dong, nanti ketahuan. Ah kamu sih..." bisikku seperti ketakutan. Joko nafasnya sudah tak teratur. Tanpa tangan kuarahkan agar penisnya memasuki vaginaku. Dan bles, penisnya memasuki vaginaku. Kurasakan Joko seperti kesetanan menyetubuhiku dan memompaku dari atas. Aku pura-pura ketakutan saja.
"Ah... kamu kok begini, Ko?"
Joko tetap diam dan terus memompaku dengan cepat sampai akhirnya spermanya keluar dan akhirnya dia lemas. Setelajh dicabutnya penisnya, dia cepat memakai celananya dan meninggalkanku tanpa sepatah katapun.
"Bajingan," bisikku. Tapi aku mengerti, dia masih hijau. Bahkan hijau pucuk daun. Hahahaha...
Pukul 14.00 lebih dikit, Joko dan ayahnya kembali datang. Merejka amenyiapkan segala sesuatunya, kemudian ayahnya naik ke atas genting sementara Joko di bawah. Kulepas celana dalamku, hingga yang yang kupakai hanya komono saja. Jika ayahnya turun ke bawah, aku langsung berlari masuk kamar. Saat ayahnya di atas, aku berdiri di pintu dan memperlihatkan kepada Joko senyumku. Joko tersipu. Sedikit demi sedikit kusingkap komonoku memamerkan bulu-bulu kemaluanku. Joko meliriknya berkali-kali dan aku tersenyum. Saat Joko melihatku, aku mengejeknya dengan menjulurkan lidahku. Joko mendekatiku. Aku sengaja membuatnya marah. Remaja alias ABG hanya dua kuncinya. Memujinya setinggi langit atau membuatnya marah seakan tyak berharga. Dengan marahnya dia akan nekad berbuat sesuatu, apalagi laki-laki.
"Bapakmu lagi di atas, berani gak?" bisikku. Saat ngomong begitu, ayahnya memanggilnya meminta agar Joko naik tangga membawa seuatu. Cepat Joko melompat dan menaiki tangga, kemudian turun lagi. Kermbali dia kulambai agar datang. Saat datang kueluk penisnya. Berkali-kali sampai penisnya berdiri. Cepat kuturunkan celananya dan kukdudukan dia di kurisi kecil. Kukangkangi tubuhnya dan kuarahkan penisnya memasuki vaginaku. Cepat aku menggoyangnya dan mulutnya kuarahkan mengisapi tetekku saat ayahnya bekerja keras di atas genting, kami bekerja keras di bawah. Sampai akhirnya spermanya muncrat beberapa kali dan dia segera memakai celananya tanpa sempat membersihkannya. Aku tersenyum padanya dan menjulurkan lidahku mengejeknya, sembari menunjuukan kelingkongku, yang artinya diatidak hebat.
Saat mereka pulang sore hari, aku sempat berbisik pada Joko, agar dia datang ke rumahku pukul 20.00 dari pintu samping. Ketuk jendelaku beberapa kali, agar aku membuka pintu samping. Tak kutunggu jawabannya.
Saat aku duduka di teras depan rumah, kulihat Joko mengendap-endap di samping rumahku,. Setelah lihat kiti dan kanan dan mungkin merasa aman, dia menyelinap kesamping. Saat itu aku segera memasuki rumah dan mengunci pintu depan dan mematikan rampu ruang tamu. Cepat aku ke samping dan membukapintu samping. Begitu dia masuk, kami mengunci pintu. Kulepas komonoku dan aku sudah telanjang bulat.
"Kamu telanjang juga dong..."bisikku. Dia juga seperti tergesa-gesa membuka pakaiannya sampai bugil. Warna kulit kami sangat kontras. Hitam-putih.
"Kamau jangan tergesa-gesa dong. Ayo isap tetek ibu dulu sepuasmu," kataku. Dia mulai mengisap tetekku dan aku mengelus-elus puunggungnya Kemudian aku meminta menjilati vaginaku. Dia menatapku.
"Heh... menjilat aja gak berani. Laki-laki apa kamu?" aku sengaja menghejeknya dan memojokkannya. Lagi dia tatyap wajahku di keremangan lampu.
"Ayo dicoba. Berani gak?" tanyaku. Aku menelentangkan tubuhku di atas meraja makan dan mengangkangkan kedua kakiku.
"Ayo... kalau kamu laki-laki!" tantangku mengecirkan dirinya. Dia mendekat. Mungkin terseninggung sekali atas ejekanku. Kutangkap kepalanya dan kuarahkan mulutnya ke vaginaku. Dia mulai menjilati vaginaku. Aku mengajarinya, bagfaimana cara menjilat dan apa y ang harus dijilat. Aku memag sudah mencuci bersih vaginaku dan pada bulunya aku semportkan sekali farvun, hingga membuat aromanya jadi nano-nano.
Makin lama jilatannya semakin bagus dan aku meminta dia mempertahaqkankan jilatan seperti itu. Aku mulau menikmatinya sampai akhirnya aku orgasme. Kasihan Joko, dia belum orgasme. Aku turun ke lantas dan merebahkan diriku di lantai hanya dengan beralaskan komonoku yang kukembangkan. Jokopun menindih tubuhku dari atas dan memasukkan penisnya.
Lain orang lain sifatnya. Joko kelihatannya semuanya mau cepat dan buru-buru serta sedikit kasar. Tapi aku suka pada kekasarannya, karean tusukannya dalam vaginaku menjadi lebih keras.
Aku berpura-pura kewalahan, walau sebenarnya aku sudah orgasme. Lama kelamaan aku jadi menikmatinya juga. Aku tahu, sebentar lagi Joko pasti akan orgasme. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku pun mujlai mengimbanginya dan mencari kenikmatanku.
Akhirnya aku mendapatkannya. Aku mempertahankan goyanganku dan mengimbangi kekasaran Joko.
Kami mendapatkan puncak yang kami nikmati. Joko melepaskan spermanya. Saat berkali-kali dia melepaskan spermanya,. dia mau mencabur penisnya. Aku menahannya dewngan menjepitkan kedua kakiku di pinggangnya dan aku mengonggoyangnya dari bawah, sampai aku orgasme.
Kusuruh Joko mencuci penmisnya di kamar mandi sementara aku ke kamarku mengambil uang. Saat dia mau keluar dari rumah, aku menyelipkan uang itu ke tangannya. Rp. 20 ribu.
"Terima kasih banyak ya Bu..." katanya berkali-kali. Nampak dia senang sekali menerima uang Rp. 20.000 itu. Mungkin dalam pikirannya, sudah dapat ngentot, dapat uang lagi. Baginya takaran Rp. 20.000 itu sudah cukup besar. Sejak itu, saat aku membutuhkannya aku cuyku pmembisikkan padanya saat kami berpapasan. Kemudian kami pakai jadwal Selasa dan jumat malam.
Tak ada yang tahu. Joko pun sudah pintar dengan berbagai versi untuk memuaskan dirinya . Dia merasa dia memuaskan dirinya, karena dia tidak pernah tahu, kalau apa yang kuajario padanya, sebenarnya untukamemuaskan diriku.

0 komentar:

Poskan Komentar